JAKARTA – Kebijakan bekerja dari rumah atau Work from Home (WFH) belum berjalan optimal. Masih banyak perusahaan yang tetap mempekerjakan karyawannya di kantor. Padahal salah satu langkah pencegahan penularan virus Corona (Covid-19), adalah mencegah kerumunan massa dan menjaga jarak antarorang (social distancing).
Bukti bahwa WFH belum berjalan maksimal bisa dilihat dari masih padatnya pengguna KRL Commuter Line di wilayah Jabodetabek, Senin (23/3/2020) pagi. Terjadi penumpukan di berbagai stasiun dan di dalam setiap gerbong KRL penumpang berjubel.
Anggota Komisi V DPR Rifqinizamy Karsayuda mengatakan, sebisa mungkin perusahaan swasta mengedepankan karyawannya untuk bekerja dari rumah sesuai instruksi pemerintah. Namun jika tidak bisa karena ada beberapa jenis pekerjaan yang tidak bisa dikerjakan di rumah maka sebisa mungkin perusahaan mengatur sistem kerja karyawannya.
“Misalnya bekerja bergantian (shift), tidak berbarengan terutama terkait dengan perusahaan-perusahaan swasta yang harus melayani sektor-sektor publik. Ya misalnya ada 100 karyawan ya dibuat gantian per 50 karyawan,” tuturnya, Senin (23/3/2020).
PT Kereta Commuter Indonesia, kat dia, berencana memberlakukan penataan jarak antarpenumpang sehingga antarpenumpang tidak saling berdekatan apalagi berdesakan karena berpotensi mempermudah penyebaran virus Corona.
“Makanya tadi Dirut KAI Pak Edi minta tolong melalui kami di DPR agar terutama pihak-pihak swasta itu mengikuti imbauan dari pemerintah agar mengedepankan bekerja dari rumah,” katanya.
Baca Juga :

Rifqinizamy: UU Kabupaten/Kota Perkuat Fondasi Hukum Daerah

Revisi UU Pemilu tidak hanya untuk Kepentingan 2029

Rifqinizamy: DPR Finalisasi Gaji PPPK melalui APBN

Sah! Komisi II Setujui Tambahan Anggaran Ombudsman RI Rp 200 Miliar

Revisi UU Pemilu Bakal Diundur ke 2027

Panja Revisi UU Pemilu Segera Dibentuk, DPR: Sesuai dengan Tugas Prolegnas

DPR Tegur Menteri ATR/BPN soal Lambannya Persetujuan Lahan Program Presiden
